By   Article Published 02 October 2014
 

 

DI HARI ARAFAH KITA BERPUASA

Hari ini sekitar 4 juta jamaah haji sedang bergerak menuju Padang Arafah. Tempat bersejarah yang menjadi lokasi untuk menjalani puncak ritual haji, besok, Jum'at, 3 Oktober 2014. Disanalah Nabi Ibrahim terbuka hijab jiwanya – setelah wuquf – sehingga mantap menjalani cobaan Allah yang sangat berat, untuk mengorbankan anak semata wayang yang sangat dicintainya.

 Tapi terbukti, kecintaan Ibrahim kepada Allah jauh lebih besar, dan beliau pun berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Yang kemudian terbukti pula, ternyata DIA hanya ingin menguji keimanan Ibrahim. Dan ibrahim pun lulus dengan nilai sempurna. Inilah saat-saat yang sangat krusial dalam perjalanan spiritualitas seorang hamba, yang kemudian dijadikan sebagai puncak ibadah haji, dimana umat Islam di seluruh dunia disunnahkan untuk berpuasa Arafah, membarengi wuquf di Arafah.

---------------------------------------------------------------

 WUQUF di Padang Arafah menyimpan banyak hikmah yang mesti kita petik sebagai pelajaran kehidupan. Diantaranya, adalah waktu wuquf yang digelar antara Zhuhur sampai Maghrib. Yakni, saat matahari mulai tergelincir dari puncak langit menuju ufuk barat dimana ia bakal tenggelam.

 Di satu sisi, pelaksanaan wuquf di Arafah yang dilakukan siang sampai sore itu memungkinkan umat Islam di seluruh dunia untuk mengikutinya dengan puasa Arafah.

 Selama ini, sering terjadi kerancuan dalam penetapan tanggal pelaksanaan hari raya Haji di belahan bumi yang berbeda dengan Arab Saudi. Tak jarang kita mendengar lebaran haji berbeda antara satu negara dengan negara lain. Atau bahkan berbeda antara ormas satu dengan yang lain, meskipun berada di negara yang sama.

 Hal ini disebabkan oleh ketidaktepatan cara dalam penetapan lebaran haji. Yakni, mengikuti cara penetapan Idul Fitri. Padahal penetapan Idul Adha itu mestinya berbeda dengan Idul Fitri.

 Dalam menetapkan datangnya Idul Fitri, kita diperintahkan untuk menghitung atau melihat munculnya bulan baru, sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadan. Kalau saat maghrib di akhir Ramadan, hilal (bulan sabit) sudah muncul, berarti puasa Ramadan sudah harus diakhirkan. Dan esoknya, umat Islam mesti menyelenggarakan shalat Idul Fitri.

 Ini berbeda dengan penetapan Idul Adha. Karena, patokan pelaksanaan hari raya kurban itu adalah ritual haji. Terutama, wuquf di Arafah. Itulah sebabnya, kenapa Idul Adha juga disebut sebagai Hari Raya Haji. Karena perayaannya ditepatkan dengan ritual-ritual di tanah suci.

Jual Buku AGUS MUSTOFA | CITRA 081.235.042.043 - Penerbit Buku Islam Best Seller - Diskusi Tasawuf - Umroh - Spiritual Training Outbound - Foto Aura - Astrofotografi Ketika jamaah haji sedang wuquf di Arafah, maka umat Islam di seluruh dunia disunnahkan untuk puasa Arafah. Dan ketika jamaah haji sedang melakukan lempar jumrah, thawaf, dan sa’i, maka umat Islam di belahan bumi yang lain merayakannya dengan shalat Id dan penyembelihan hewan kurban. Semuanya mengacu kepada ritual-ritual yang sedang digelar di tanah suci.

 Nah, karena kerancuan tentang hal ini, maka sebagian umat Islam menentukan pelak-sanaan puasa Arafah dan shalat Id tanpa mengacu ke tanah suci, melainkan menetapkan sendiri berdasar penanggalan setempat. Penetapan semacam ini tidak memiliki dalil yang qath’i. Karena, hadits-hadits yang dipakai sebagai dasar, sebenarnya bukan hadits yang terkait dengan puasa Arafah, melainkan terkait dengan puasa Ramadan dan Idul Fitri.

 Pelaksanaan wuquf di Padang Arafah terjadi pada siang sampai sore hari. Sekitar pukul 12 siang sampai 6 sore. Maka, kawasan yang berbeda 12 jam dari Arafah pun masih akan bisa membarengi alias bersamaan waktu puasanya dengan wuquf, meskipun hanya sebagian waktu. Dan, sangat dimungkinkan membarengi hari Arafah dimana seluruh jamaah haji, siang ini sedang berbondong-bondong menuju padang wukuf itu.

 Maka, saya menganjurkan agar kawan-kawan yang menentukan jatuhnya Idul Adha lewat hilal, mengkaji kembali cara penetapannya. Karena seharusnya mengacu kepada ritual haji di tanah suci. Dengan cara ini, Hari Raya Haji akan benar-benar terjadi secara internasional. Bukan lokal-lokal seperti Idul Fitri, yang bisa berbeda antara wilayah satu dengan wilayah lainnya dikare-nakan perbedaan munculnya hilal.

 Hikmah lain yang muncul dari pelaksanaan wuquf siang sampai sore itu adalah yang terkait dengan sudut pandang spiritual. Jutaan jamaah haji berada di dalam tenda-tenda sederhana di antara waktu tergelincirnya sang matahari menuju ke tempat peraduannya di ufuk barat.

 Tentang tergelincirnya matahari ini Allah menjelaskan secara unik di dalam al Qur’an. Bahwa waktu ibadah shalat kita itu ternyata bukan dimulai dari Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’. Juga bukan dimulai dari Maghrib, Isya’, Subuh, Zhuhur dan Ashar. Melainkan dimulai dari saat tergelincirnya matahari, alias waktu Zhuhur.

 Padahal mestinya, jika kita mengikuti patokan kalender Hijriyah, permulaan hari adalah bertepatan dengan datangnya waktu Maghrib. Maka, permulaan shalat sehari semalam pun diawali dengan perintah shalat Maghrib itu. Barulah kemu-dian disusuli dengan perintah shalat Isya’, Subuh, Zhuhur, dan Ashar.

 Sedangkan pada kalender Masehi, permulaan hari dimulai dari tengah malam. Sehingga, shalat yang paling awal adalah shalat subuh. Baru kemudian disusul waktu-waktu shalat lainnya. Tetapi, uniknya di dalam al Qur’an perintah shalat diawali dari saat matahari tergelincir, yakni shalat Zhuhur. Sehingga urutan shalat lima waktu adalah: Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh. Hal itu dijelaskan dalam ayat berikut ini.

 QS. Al Israa’ (17): 78

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir (zhuhur & ashar) sampai gelap malam (maghrib & isya’) dan (dirikanlah pula shalat) fajar (subuh). Sesungguhnya shalat fajar itu disaksikan.

 Tergelincir matahari adalah saat-saat matahari beranjak dari puncak tertingginya, bergeser perlahan ke arah barat, semakin rendah, dan kemudian tenggelam menghadirkan malam. Di dalam ayat berikut ini, Allah memberikan gambaran tentang keistimewaan waktu Zhuhur, karena seluruh makhluk di langit dan di bumi sedang bertasbih dan memuji-muji keagungan-Nya.

 QS. Ar Ruum (30): 18

dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada di petang hari dan saat kamu berada di waktu zhuhur.

 Ternyata bukan hanya waktu Zhuhur, melainkan juga petang hari, saat-saat datangnya waktu maghrib. Dan menariknya wuquf di Arafah itu diselenggarakan diantara dua waktu yang istimewa itu, yakni antara Zhuhur dan Maghrib. Saat-saat seluruh makhluk Allah di langit dan di bumi sedang berdzikir memuji keagungan-Nya.

 Maka, bisa kita bayangkan betapa saat perenungan di Arafah itu sebenarnya kita sedang berdzikir bersama makhluk-makhluk Allah di seluruh penjuru alam semesta. Kita sedang menceburkan diri ke dalam gelora dzikir yang membahana di langit dan di bumi, yang sayangnya tidak semua orang memahaminya. Kecuali orang-orang yang diridhai-Nya.

 QS. Al Israa’ (17): 44

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

 Siapakah makhluk langit yang terus berdzikir memuji Allah tiada henti itu? Diantaranya adalah para malaikat. Mereka berdzikir kepada Allah tidak pernah putus-putusnya. Dan tidak merasa lelah. Sambil selalu berdoa dan memohonkan ampunan bagi hamba-hamba yang sedang mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang bertaubat dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya.

 QS. Al Anbiyaa’ (21): 19-20

Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.

 QS. Al Mukmin (40): 7

(Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala,

 QS. Asy Syuura (42): 5

Hampir saja langit itu pecah di bagian atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 Maka, sebenarnya wuquf di Padang Arafah adalah sebuah ritual kolosal, antara jutaan jamaah haji yang sedang melantunkan doa taubat dan dzikir-dzikir mengagungkan Allah Yang Maha Berkuasa, bersama dengan seluruh makhluk Allah yang ada di langit dan di Bumi. Diantaranya, adalah para malaikat yang berada di sekitar ‘Arasy Allah, dimana mereka terus berdzikir dan memohonkan ampunan untuk hamba-hamba-Nya yang sedang mengharap rahmat-Nya.

 Bagi orang-orang yang berwuquf dengan niat membuka hijab jiwanya dan penuh kepahaman, Insya Allah mereka akan bisa merasakan betapa agung suasana pencerahan yang berlangsung sejak Zhuhur sampai menjelang Maghrib itu. Saat sang surya mulai tergelincir dari puncak langit menuju ke peraduannya. Dimana Allah menjadikannya sebagai salah satu dari waktu-waktu yang diridhai-Nya..!

 (dicuplik dari buku DTM-30: Ma’rifat di Padang Arafah, hlm. 185-194)

Agus Mustofa



Related Article

UA-41052285-1