By   Article Published 03 October 2014
 

MERENUNG DI PADANG PENGETAHUAN

HARI INI adalah hari Arafah, dimana jutaan umat Islam melakukan wuquf sejak zhuhur sampai matahari tenggelam. Disana mereka melakukan perenungan dan evaluasi diri lewat wuqufnya, disini kita dan umat Islam di seluruh penjuru dunia membarenginya dengan berpuasa Hari Arafah. Berikut ini adalah cuplikan lanjutan dari buku DTM-30: Ma’rifat di Padang Arafah

-----------------------------------------------------------

TANGGAL 9 Dzulhijjah adalah puncak ritual ibadah haji di tanah suci. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sebuah kawasan bebatuan seluas 3,5 x 5,5 km persegi, yang kita kenal sebagai Padang Arafah.  

  

Di padang tandus inilah jamaah haji memulai ritualnya dengan cara berdiam diri melakukan perenungan dan bertafakur tentang substansi kehidupannya sebagai khalifah Tuhan di Bumi. Perenungan yang memakan waktu sekitar 5-6 jam - Zhuhur sampai Maghrib - itu kita kenal sebagai ritual Wuquf.

        

Ia berasal dari kata waqafa yang bermakna ‘berhenti’. Maka, wuquf adalah ritual haji yang mengajari umat Islam untuk sejenak meninggalkan segala aktifitasnya selama beberapa jam itu. Berhenti dari kegiatan apa pun agar bisa melakukan perenungan jati diri.

        

Sengaja, wuquf di Arafah itu dipilih sebagai permulaan ritual haji. Dan sekaligus sebagai puncaknya, yang tanpanya ibadah haji kita menjadi tidak sah. Begitulah Rasulullah mengajarkan kepada kita. ‘’Tak ada haji tanpa wuquf’’, sebuah statement yang menunjukkan betapa pentingnya ritual wuquf itu bagi jamaah haji.

        

Ada beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun yang utama adalah, bahwa sebelum melakukan ibadah fisik selanjutnya di dalam rukun haji, seorang muslim harus melakukan persiapan mental dan perenungan jati diri ke dalam jiwanya sendiri.

        

Sebenarnya, hal ini menjadi dasar bagi semua ibadah di dalam Islam. Bahwa setiap langkah ibadah kita harus berlandaskan ilmu dan niat yang benar. Yang itu hanya bisa dicapai kalau kita telah melakukan pemahaman, penghayatan dan komitmen untuk melangkah ke depan secara berkualitas. Tanpa proses semacam itu, ibadah kita tak lebih hanyalah sebuah ritual tanpa makna. Dan tak membekaskan apa-apa di dalam jiwa.

        

Semua ibadah harus dimulai dari niat. Tetapi wuquf ini lebih mendalam dari sekadar niat. Karena ia berisi perenungan, pemikiran, pemahaman dan komitmen terhadap ‘niat’. Bukan hanya untuk keabsahan ritual haji yang sedang kita jalani, melainkan lebih jauh dari itu, untuk menjalani realitas hidup kita, sepulang dari tanah suci.

        

Maka, ukuran kemabruran haji itu bukan pada saat kita masih berada di tanah suci. Melainkan setelah pulang dari berhaji. Apakah akhlak kita sudah berubah menjadi lebih baik ataukah tak ada perubahan, ataukah malah bertambah buruk. Haji disebut mabrur adalah jika akhlak kita sepulang dari tanah suci menjadi lebih baik.

        

Dalam buku saya yang berjudul: ‘Menjadi Haji Tanpa Berhaji’, saya jelaskan panjang lebar, bahwa kesuksesan sebuah ibadah haji terletak pada perubahan sifat berserah dirinya kepada Allah, seusai berhaji. Yang jika didetilkan akan menjadi lima sifat yang saling mempengaruhi: lebih sabar, lebih ikhlas, lebih taat, lebih tawakal, dan lebih suka berkorban dalam berbuat kebajikan.

        

Kelima sifat itu kalau dilebur menjadi satu akan menghasilkan sifat berserah diri kepada Allah, yang disebut muslimun. Sifat ini oleh Allah ditempatkan sebagai kualitas puncak bagi seorang manusia yang sedang berproses meningkatkan kualitas keislamannya.  Lebih tinggi dari kualitas iman, dan lebih tinggi dari kualitas takwa. Sehingga dalam ayat berikut ini Allah mendorong orang yang beriman untuk naik kelas menjadi bertakwa, dan naik kelas lagi menjadi muslimun.

 

QS. Ali Imran (3): 102

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslimun).

 

QS. An Nisaa’ (4): 125

Dan siapakah yang paling baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya (aslama) kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebajikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

 

Maka, orang yang sedang berwuquf di Arafah harus merenungkan dan memahami masalah yang sangat substansial ini. Jangan sampai ibadah haji hanya menjadi ritual fisik yang tidak memberikan perubahan berarti pada akhlak dan kualitas keislamannya, sepulang ke tanah air. Harus terjadi proses terbukanya hijab kegelapan atas semua dosa yang pernah kita lakukan. Dan kemudian diintensifkan lagi untuk membuka hijab-hijab yang lebih halus di dalam jiwa kita. Sehingga mampu menghasilkan marifatullah di Padang Arafah.

        

Wuquf adalah saat-saat pencerahan bagi setiap jamaah haji yang ingin mencapai derajat muslim sejati. Bukan muslim KTP, muslim ijazah, atau apalagi muslim aksesori. Juga bukan haji nama, haji piagam, ataupun haji kopiah. Wuquf adalah starting point untuk melakukan perubahan substansial dalam proses keislaman kita. Dan semua itu harus dimulai dari dalam jiwa. Bukan dari hal-hal yang bersifat lahiriah ataupun ritual-ritual fisik belaka.

 

Arafah, sesuai namanya, adalah Padang Pengetahuan tempat Nabi Adam bertaubat, dan kemudian memperoleh kalimat-kalimat ilahiah sebagai bekal mengarungi kehidupan bumi. Dimana, ia dan anak keturunannya ditugasi sebagai khalifatu fil ardhi - pemimpin di muka bumi.

        

Arafah juga menjadi titik menancapnya keyakinan Nabi Ibrahim untuk menaati perintah Allah dalam berkorban dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Allah. Di sinilah, beliau meneguhkan penyerahan diri yang tiada terukur kualitasnya. Dalam bentuk mengorbankan anak saleh yang sangat dicintainya, dan diharapkan menjadi penerus syiar agama Islam yang dibawanya.

        

Maka, wuquf di Arafah adalah momen yang sangat penting bagi setiap jamaah haji untuk memperoleh pengampunan Allah sebagaimana Nabi Adam, dan dilanjutkan dengan komitmen berserah diri kepada Allah sebagaimana Nabi Ibrahim.

        

Inilah padang pengampunan dan padang pencerahan bagi setiap diri yang ingin meningkatkan kualitas keislamannya. Padang Arafah adalah padang pengetahuan ma’rifat bagi perjalanan spiritual seorang hamba Allah yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya.

        

Tidak ada haji tanpa perenungan Arafah. Tidak akan pernah ada pencapaian puncak keislaman seorang muslim, tanpa ma’rifatulah di Padang Pengetahuan. Karena sesungguhnya, ini baru permulaan bagi perjalanan spiritual berikutnya. Yang di dalam ritual haji disimbolkan dengan lempar jumrah di Mina, Thawaf di seputar Ka’bah, dan diakhiri dengan Sa’i antara Shafa dan Marwah. (Bersambung...)

        

Wallahu'alam bishshawab

Agus Mustofa



Related Article

UA-41052285-1