Bara Ilmika adalah putra seorang penulis buku tasawuf modern yang kontroversial di Indonesia. Bara kecil sudah akrab dengan pemikiran-pemikiran spiritual hasil provokasi sang ayah. Berbagai hal fundamental terkait ketuhanan dan kehidupan sesudah mati acapkali dilayangkan kepadanya. Membuat Bara seringkali bertanya-tanya tentang hakikat kehidupan.
Kegelisahan itu semakin menguat ketika Bara menuntut ilmu di Macquarie University, Sydney, Australia. Lingkungan islami dimana Bara tumbuh sama sekali berbeda dengan yang ia dapati di masa kuliahnya itu. Bara menjadi sering bersinggungan dengan kultur dan gaya hidup yang sama sekali tidak islami. Membuatnya kerap mempertanyakan apa pentingnya agama ketika mereka yang ateis pun bisa hidup sukses dan bahagia.
Perjalanan hidupnya itu membuat Bara terus mencari pertanggungjawaban atas keresahan spiritualnya. Tokoh-tokoh seperti Zakir Naik, Mufti Menk, Omar Sulaiman, Uthman ibn Farooq, Muhammad Ali, Nouman Ali Khan, dan Shabir Ally begitu lekat di telinganya. Begitu pun ilmu dari sang ayah terkait cara memahami Quran dengan metode ayat-bil-ayat, yang sangat membantunya memahami Quran.
Kegelisahan itu pula yang membuat Bara kini bertekad mendedikasikan hidupnya untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi dunia Islam. Ia hendak memberikan pembanding terhadap pemahaman Islam tradisional yang dianggapnya kerap keluar jalur dari semangat ajaran Quran. Dengan begitu, Bara berharap umat Islam tidak lagi beragama hanya ikut-ikutan saja tanpa memahami esensinya. Apalagi mempercayakan masa depan akhirat mereka kepada sumber-sumber selain Quran semata.
Karena, Allah memang mengutus kita untuk hanya berpegang kepada petunjuk-Nya yang telah dijamin kebenaran dan keotentikannya.